Bangkit di Usia Pertama, Gerakan Rakyat dan Muda Bergerak Kobarkan Aksi Hijau di Ciliwung: Saatnya Jakarta Berbenah untuk Masa Depan
Oleh Admin, 4 Mar 2026
Satu tahun bukan sekadar hitungan waktu. Bagi Gerakan Rakyat, usia pertama adalah momentum pembuktian. Melalui organisasi sayapnya, Muda Bergerak, peringatan hari jadi ini dirayakan dengan cara yang sarat makna: aksi tanam pohon dan bersih sungai di kawasan Padepokan Ciliwung, Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2026). Di tengah tantangan krisis lingkungan ibu kota, langkah ini menjadi pesan tegas bahwa perubahan harus dimulai dari tindakan nyata.
Mengangkat tema “Muda Bersuara, Bumi Terjaga: 1 Tahun Gerakan Rakyat Bersama Muda Bergerak”, kegiatan ini dirancang bukan sebagai seremoni simbolis, melainkan sebagai gerakan yang mengajak publik untuk lebih peduli pada keberlanjutan kota. Para kader dan relawan turun langsung ke lapangan, menanam pohon di bantaran sungai sekaligus menyisir aliran Ciliwung untuk membersihkan sampah yang menumpuk.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, menegaskan bahwa aksi lingkungan ini harus memiliki dampak jangka panjang. Ia menekankan bahwa gerakan sosial tidak boleh berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi harus mampu mendorong lahirnya kebijakan publik yang berpihak pada kelestarian alam.
“Kami ingin gerakan ini menjadi energi kolektif agar isu lingkungan benar-benar masuk dalam prioritas kebijakan pemerintah. Menanam pohon adalah langkah awal, tetapi advokasi kebijakan adalah tujuan besarnya,” tegas Sahrin di hadapan peserta aksi.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Gerakan Rakyat sebagai kekuatan yang ingin mengintegrasikan kerja lapangan dengan perubahan struktural. Tanam pohon di Ciliwung adalah simbol komitmen, sekaligus tekanan moral agar pembangunan Jakarta tidak terus mengorbankan ruang hidup warganya.
Sungai Ciliwung sendiri selama ini menjadi representasi nyata persoalan ekologis Jakarta. Banjir tahunan, sedimentasi, pencemaran limbah, serta menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) adalah rangkaian masalah yang saling berkaitan. Dengan memilih lokasi ini, Muda Bergerak ingin menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan isu abstrak, melainkan realitas yang dirasakan langsung masyarakat.
Aksi bersih sungai yang dilakukan bersama-sama menjadi gambaran bahwa solusi tidak dapat dibebankan pada pemerintah semata. Partisipasi warga adalah kunci. Ketika generasi muda terlibat aktif, pesan yang disampaikan menjadi semakin kuat: menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi ekologis yang menghadirkan perspektif kritis dari para pegiat lingkungan. Muhammad Aminullah dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta menyoroti krisis ruang terbuka hijau di ibu kota. Ia memaparkan bahwa penurunan RTH tidak terlepas dari masifnya alih fungsi lahan akibat kepentingan investasi.
Menurutnya, pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek telah mengorbankan keseimbangan ekologis. Distribusi ruang hijau dinilai tidak merata, dan pemerintah cenderung mengejar target luasan tanpa memastikan fungsi ekologisnya berjalan optimal.
Kritik tersebut menjadi pengingat bahwa kota yang sehat membutuhkan perencanaan yang berpihak pada lingkungan. Tanpa RTH yang memadai, kualitas udara menurun, suhu kota meningkat, dan risiko banjir semakin besar. Karena itu, aksi tanam pohon yang dilakukan Muda Bergerak memiliki relevansi strategis sebagai bentuk edukasi sekaligus tekanan publik.
Pandangan serupa disampaikan Reza, Ketua Kelompok Tani Hutan Laksaru. Ia menegaskan bahwa ruang terbuka hijau adalah hak dasar warga. Fenomena betonisasi yang masif, menurutnya, mencerminkan pendekatan pembangunan berbasis proyek yang mengabaikan keseimbangan alam.
“Ketika ruang kosong lebih diprioritaskan untuk kepentingan komersial daripada kepentingan ekologis, masyarakat berhak mempertanyakan arah kebijakan tersebut,” ujarnya.
Pesan yang muncul dari diskusi ini jelas: keberlanjutan bukan pilihan tambahan, melainkan fondasi utama pembangunan. Jika Jakarta ingin keluar dari lingkaran banjir, polusi, dan krisis iklim, maka keberanian untuk merevisi kebijakan tata ruang menjadi keharusan.
Di usia pertamanya, Gerakan Rakyat melalui Muda Bergerak menunjukkan bahwa generasi muda tidak sekadar menjadi penonton. Mereka hadir sebagai agen perubahan yang berani menyuarakan kepentingan lingkungan sekaligus menawarkan solusi konkret. Aksi ini juga menjadi ruang konsolidasi, memperkuat komitmen kader untuk menjadikan isu ekologis sebagai agenda strategis jangka panjang.
Momentum ini diharapkan tidak berhenti di Ciliwung. Gerakan serupa perlu diperluas ke berbagai titik kritis lainnya di Jakarta dan daerah lain. Penanaman pohon harus diiringi pengawasan kebijakan, advokasi tata ruang, serta edukasi publik yang berkelanjutan.
Satu tahun Gerakan Rakyat kini ditandai dengan pijakan yang jelas: berpihak pada bumi dan masa depan generasi berikutnya. Di tepian Ciliwung, pohon-pohon yang ditanam menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk bertindak.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Jakarta mampu berbenah, melainkan apakah kita semua siap bergerak bersama. Karena masa depan kota tidak ditentukan oleh janji, tetapi oleh aksi nyata—dan aksi itu telah dimulai.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya