
Setiap helai daun yang bergoyang di atas hutan tropis, setiap aliran air yang jernih menyusuri sungai-sungai di wilayah timur Pulau Borneo, semua itu adalah bagian dari warisan besar yang kita terima dan yang harus kita jaga bersama. Di daratan yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Kalimantan Timur, keindahan alam dan kekayaan ekosistem masih tersisa, namun ancaman demi ancaman mengintai, dari kerusakan lahan, degradasi hutan, hingga pencemaran dan penanganan sampah yang belum optimal. Semangat kolektif sangat dibutuhkan agar generasi saat ini dan mendatang dapat tetap merasakan nafas alam yang sehat dan bumi yang lestari.
Melalui https://dlhkalimantantimur.id/ Saat ini DLH Kalimantan Timur telah mengidentifikasi sejumlah isu penting yang menjadi prioritas dalam upaya pelestarian lingkungan. Misalnya saja, tiga isu prioritas yang dirumuskan dalam dokumen utama pengelolaan lingkungan hidup daerah (DIKPLHD) mencakup kerusakan lahan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati, penurunan kualitas air permukaan serta rendahnya ketersediaan air baku, dan pengelolaan sampah yang belum optimal. Kerusakan lahan tidak hanya mengancam tutupan hijau yang selama ini menjadi “paru-paru” bagi wilayah ini, tetapi juga menyulitkan flora dan fauna endemik untuk bertahan hidup. Sementara pengelolaan sampah yang belum tuntas menjadi beban tambahan yang tidak hanya soal kebersihan, tapi soal kesehatan lingkungan dan manusia.
Meminjam metafora bahwa hutan dan alam di Kalimantan Timur adalah warisan dari leluhur dan pinjaman untuk cucu-cicit kita, maka kelestarian alam menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya pemerintah, tapi komunitas, sektor swasta, dan masyarakat umum. Kini, mari kita telaah lebih dalam kondisi nyata yang dihadapi, serta upaya-upaya yang bisa dijalankan untuk mewujudkan gerakan kolektif ini.
Di provinsi ini, aktivitas ekstraktif seperti pertambangan, pembalakan liar, maupun konversi lahan untuk perkebunan telah lama menjadi bagian dari lanskap pembangunan. Sebuah studi menunjukkan bahwa kerugian ekologis di wilayah ini sangat besar, terutama karena lahan kritis yang meluas dan eksploitasi batu bara, gas, dan minyak bumi. Eksploitasi semacam ini bukan hanya merusak lingkungan secara langsung, tetapi juga mengikis kemampuan alam untuk pulih secara alami. Selain itu, sektor pengelolaan sampah juga menunjukkan data yang menyentakkan: total timbulan sampah di Kalimantan Timur tahun 2024 tercatat mencapai lebih dari 851.000 ton per tahun, dengan penanganan optimal baru berada di kisaran dua pertiga saja. Situasi ini memberikan gambaran bahwa tanpa gerakan kolektif yang kuat, alam bisa mengalami “kelelahan” dan kehilangan kapasitasnya sebagai penyokong kehidupan.
Salah satu aspek yang sangat strategis adalah peran generasi muda. Di bidang pembangunan hijau, program-program yang melibatkan kaum muda di Kalimantan Timur mulai menunjukkan bahwa generasi baru bisa menjadi pendorong perubahan nyata. Misalnya, melalui program inisiasi seperti pembekalan kepemimpinan, kampanye sosial, hingga edukasi tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Ini berarti bahwa jika kita ingin mewariskan alam yang sehat ke generasi berikutnya, maka kita harus melibatkan mereka sejak sekarang — bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku aktif.
Gerakan kolektif juga harus mencakup tindakan di tingkat komunitas dan individu. Hal-hal sederhana seperti memilah sampah, menolak penggunaan plastik sekali pakai, ikut dalam aksi penanaman pohon atau menjaga daerah aliran sungai, semua punya arti besar ketika dilakukan secara bersama-sama. Di tingkat kebijakan, pemerintah provinsi melalui institusi seperti Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur (DLH Kaltim) telah menginisiasi pengembangan sistem data lingkungan berbasis web untuk memetakan keanekaragaman hayati dan penyusunan dokumen perencanaan jangka panjang. Ketersediaan data yang transparan dan mudah diakses publik memudahkan masyarakat untuk ikut serta dalam pengawasan dan pengambilan keputusan. Kehadiran data ini juga membangun kesadaran bahwa alam tidak bisa dipisah dari alur pembangunan pembangunan harus berkelanjutan, bukan hanya untuk hari ini.
Meskipun berbagai langkah sudah ada, tantangan masih besar. Penegakan hukum terhadap kerusakan lingkungan masih belum optimal, regulasi seringkali berjalan lambat, dan pemberdayaan masyarakat di daerah-terpencil masih memerlukan peningkatan. Ketidakmerataan fasilitas pengelolaan sampah di kabupaten/kota dan masih adanya TPA open dumping menunjukkan bahwa aspek “hilir” pengelolaan lingkungan belum sepenuhnya tertangani. Maka dari itu, gerakan kolektif harus mulai dipandang sebagai bagian dari rutinitas sosial kita bukan hanya sebagai kampanye tapi gaya hidup.
Untuk meneruskan warisan alam Borneo yang hijau ke generasi mendatang, kita perlu membangun tiga pilar utama: edukasi, partisipasi, dan aksi. Edukasi agar masyarakat memahami bahwa hutan, sungai, dan laut adalah bagian dari sistem yang saling terkait; partisipasi agar komunitas lokal, generasi muda, dan sektor swasta bersama-sama bergerak; aksi agar langkah-langkah nyata dilakukan misalnya restorasi lahan, penanaman kembali, pengelolaan sampah yang berbasis daerah, serta penerapan ekonomi hijau yang ramah lingkungan. Selain itu, pembangunan hijau di Kalimantan Timur juga menunjukkan bahwa generasi muda bisa diposisikan sebagai agen perubahan, yang dapat merumuskan kampanye lingkungan dan menggerakkan komunitas mereka sendiri.
Saat kita meletakkan batu utama untuk gerakan sertifikasi ekonomi hijau, kampanye sadar lingkungan, serta integrasi data dan kebijakan lingkungan, kita sedang membangun warisan bersama. Alam di Kalimantan Timur bukanlah sumber daya yang terbatas yang bisa kita eksploitasi tanpa berpikir panjang melainkan entitas hidup yang mendukung kehidupan manusia dan seluruh makhluk. Jika hutan rusak, jika sungai tercemari, maka kita bukan hanya merugikan alam, tetapi merugikan masa depan kita sendiri.
Mari kita tutup seruan ini dengan langkah konkret dan bersama-sama: yuk lihat dan dukung informasi resmi dan aksi lingkungan di Kalimantan Timur melalui https://dlhkalimantantimur.id/, untuk ikut serta dalam gerakan kolektif yang menyadari bahwa alam harus diteruskan dari generasi ke generasi.