
Pada tahun 2025, Anies Baswedan terus menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap dunia seni, budaya, dan kreativitas lokal di Indonesia. Meski tidak sedang menduduki posisi pemerintahan, Anies tetap aktif menghadiri berbagai kegiatan budaya, berdialog dengan para budayawan, dan menguatkan kembali peran nilai-nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat. Kiprahnya sepanjang tahun ini memperlihatkan bahwa komitmennya terhadap kebudayaan bukanlah sesaat, melainkan konsisten dan penuh pemikiran mendalam.
Salah satu kegiatan penting terjadi pada 7 November 2025 ketika Anies melakukan kunjungan ke Pekanbaru, Riau, untuk bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau. Dalam pertemuan tersebut, ia berdiskusi dengan pemuka adat tentang nilai-nilai kebangsaan, persatuan, serta pentingnya kearifan lokal Melayu sebagai pondasi identitas nasional. Dalam kesempatan itu, Anies menekankan bahwa tradisi dan adat bukan hanya warisan sejarah, tetapi modal moral bagi masa depan bangsa yang lebih inklusif. Silaturahmi ini sekaligus menunjukkan penghormatan yang dalam terhadap akar budaya lokal yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Riau.
Kunjungannya juga bertepatan dengan agenda Gerakan Rakyat yang menggelar dialog kebangsaan dan pelantikan pengurus di Pusat Kebudayaan LAM Pekanbaru. Kehadiran Anies pada acara tersebut memperlihatkan upaya konkret menjalin hubungan antara visi kebudayaan dengan pergerakan sosial masyarakat. Ia mendorong masyarakat untuk memperkuat rasa kebangsaan dengan kembali kepada nilai-nilai budaya daerah yang menjadi identitas bersama.
Selain aktivitas budaya di Riau, Anies juga tampil di dunia kreatif dalam kegiatan bertaraf nasional, salah satunya pada gelaran Trisakti Architecture Project Expo (TAPE) 2025. Ia hadir sebagai narasumber talkshow bertema “Stakeholder dan Arsitek dalam Mencapai Agenda Global (SDGs)” yang diselenggarakan di Universitas Trisakti pada 19 September 2025. Acara tersebut tidak hanya menampilkan karya mahasiswa arsitektur, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara akademisi, praktisi kreatif, dan tokoh publik. Dalam sesi tersebut, Anies berbicara mengenai pentingnya arsitektur sebagai elemen penting dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus medium kreativitas yang dapat memperkuat karakter komunitas lokal.
Tak hanya berbicara, Anies juga meninjau langsung pameran karya mahasiswa yang menunjukkan kreativitas anak muda dalam dunia arsitektur. Kehadirannya memberi sentuhan motivasi dan menunjukkan bahwa ia memiliki perhatian nyata terhadap generasi muda kreatif. Menurut Anies, arsitektur bukan sekadar soal estetika, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Keterlibatannya di ajang ini menguatkan citranya sebagai sosok yang peduli pada perkembangan seni dan kreativitas modern, tanpa melupakan akar budaya.
Dalam berbagai kesempatan sepanjang tahun, Anies juga menyinggung pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai fondasi moral dan sosial bagi pembangunan bangsa. Melalui pertemuan dengan tokoh adat Melayu maupun dalam forum akademik, ia berulang kali menekankan bahwa keberagaman budaya adalah kekuatan yang harus dijaga. Indonesia, menurutnya, tidak akan menjadi bangsa besar hanya dengan pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga melalui penguatan identitas budaya dan ruang kreatif bagi masyarakat.
Di masa lalu, Anies pernah mengajukan ide pembangunan pusat kebudayaan di Jawa Barat sebagai ruang ekspresi bagi para seniman lokal. Meskipun konsepnya belum terwujud sepenuhnya, gagasan tersebut menunjukkan arah pemikirannya yang konsisten: bahwa negara harus hadir dalam menyediakan ruang kreatif agar ekosistem seni dapat tumbuh sehat. Pusat kebudayaan bukan hanya tempat pertunjukan seni, tetapi juga ruang belajar, bertukar gagasan, dan mengembangkan kreativitas lintas generasi.
Melihat berbagai kegiatan yang dilakukannya pada tahun 2025, ada satu benang merah yang tegas: Anies Baswedan memandang kebudayaan sebagai pondasi utama perubahan sosial. Ia percaya bahwa seni dan budaya tidak boleh dipinggirkan, karena keduanya merupakan jantung identitas bangsa. Upaya kembali mendekatkan masyarakat dengan akar budayanya, digabungkan dengan dukungan terhadap kreativitas modern seperti arsitektur dan seni visual, menjadi strategi harmonis yang ia dorong.
Harapan yang muncul dari rangkaian kegiatan Anies sepanjang tahun ini adalah agar semakin banyak tokoh publik yang menaruh perhatian pada dunia kreatif dan kebudayaan. Pada akhirnya, keberlanjutan budaya hanya bisa terjaga melalui kolaborasi: antara tokoh masyarakat, pemerintah, seniman, akademisi, dan generasi muda. Melalui langkah-langkah kecil namun konsisten, Anies Baswedan memberi contoh bahwa memajukan budaya tidak harus menunggu posisi atau jabatan cukup dengan kepedulian, kehadiran, dan kemauan untuk terlibat.